PURWOKERTO – Kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) mahasiswa baru UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto diwarnai insiden saat demonstrasi wahana flying fox pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Seorang mahasiswi mengalami benturan ketika mengikuti demonstrasi flying fox yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Faktapala di hadapan mahasiswa baru. Korban kemudian harus dievakuasi oleh tim SAR gabungan dari ketinggian sekitar 12 hingga 15 meter.
Gambar Ilustrasi
Insiden tersebut menjadi perhatian karena proses evakuasi berlangsung dari ketinggian dan melibatkan sejumlah unsur penyelamat. Beruntung, korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Kronologi Insiden Flying Fox UIN SAIZU
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 11.20 WIB ketika UKM Faktapala UIN SAIZU melakukan demonstrasi flying fox sebagai bagian dari rangkaian PBAK mahasiswa baru 2026.
Korban diketahui bernama Umi Nazelatul Maghfiroh, 20 tahun, mahasiswa UIN SAIZU yang berasal dari Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo.
Berdasarkan informasi awal dari tim SAR, korban mengalami masalah ketika proses pengereman saat meluncur menggunakan wahana flying fox. Gangguan tersebut diduga menyebabkan korban mengalami benturan.
Karena posisi korban berada di ketinggian sekitar 12 hingga 15 meter, proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara biasa. Pihak panitia kemudian meminta bantuan kepada unsur penyelamat untuk mengevakuasi korban.
Informasi mengenai kondisi tersebut diterima Unit Siaga SAR (USS) Banyumas sekitar pukul 12.15 WIB dari petugas Damkar Banyumas.
Tim rescue kemudian diberangkatkan sekitar pukul 12.20 WIB menuju lokasi kejadian. Setelah tiba sekitar pukul 12.55 WIB, tim melakukan assessment dan berkoordinasi dengan pihak terkait sebelum melakukan proses evakuasi.
Dievakuasi Tim SAR dari Ketinggian
Proses evakuasi dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan memberikan penanganan awal kepada korban. Setelah proses evakuasi berlangsung, korban berhasil diturunkan dari lokasi sekitar pukul 13.30 WIB.
Korban selanjutnya dibawa ke RS Orthopaedi Purwokerto untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Menurut keterangan Koordinator Tim SAR Gabungan Amin Riyanto, korban mengalami nyeri pada bagian pinggang setelah insiden tersebut. Namun, korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Hingga saat itu, dugaan awal penyebab insiden adalah adanya masalah pada sistem pengereman wahana. Penyebab pasti kejadian masih membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Kondisi Korban Kini
Kabar terbaru mengenai kondisi korban menjadi perhatian setelah insiden tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Umi Nazelatul dinyatakan dalam kondisi baik dan diperbolehkan pulang. Pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami memar atau lebam akibat benturan, tetapi tidak ditemukan luka serius yang membutuhkan tindakan medis lanjutan maupun operasi.
Rektor UIN SAIZU, Prof. Ridwan, juga diketahui menjenguk korban setelah kejadian. Pihak kampus memastikan kondisi mahasiswa tersebut dalam keadaan baik.
Rektor turut menyampaikan apresiasi kepada Tim Basarnas, Damkar Banyumas, dan tim SAR gabungan yang bergerak cepat dalam melakukan evakuasi korban. Pihak kampus juga memberikan bantuan biaya kesehatan kepada mahasiswa yang mengalami insiden tersebut.
Kampus Pastikan Kondisi Mahasiswa Baik
Steering Committee PBAK UIN SAIZU, Dr. Turhamun, sebelumnya juga menyampaikan bahwa korban dalam kondisi sehat dan telah kembali ke sekretariat Faktapala setelah mendapatkan pemeriksaan medis.
Menurut keterangan pihak kampus, insiden tersebut diduga berkaitan dengan kendala teknis yang tidak terduga. Atraksi flying fox sebelumnya juga disebut telah dilakukan pada hari sebelumnya dan berjalan tanpa kendala.
Rangkaian PBAK UIN SAIZU 2026 sendiri telah berakhir pada hari terjadinya insiden tersebut sehingga atraksi outdoor tidak dilanjutkan kembali.
Evaluasi Keselamatan Jadi Perhatian
Insiden tersebut menjadi pengingat penting bahwa setiap kegiatan yang menggunakan wahana dengan risiko ketinggian membutuhkan persiapan dan pemeriksaan keselamatan secara menyeluruh.
Meski korban telah mendapatkan penanganan medis dan kondisinya dinyatakan baik, evaluasi terhadap wahana dan prosedur keselamatan tetap penting dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
Terlebih, kegiatan PBAK melibatkan mahasiswa baru yang mengikuti berbagai rangkaian pengenalan kampus. Setiap kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik maupun penggunaan peralatan khusus perlu memastikan seluruh aspek keselamatan telah diperiksa sebelum digunakan.
Untuk saat ini, korban telah diperbolehkan pulang dan menjalani pemulihan. Sementara itu, dugaan gangguan pada sistem pengereman masih menjadi informasi awal mengenai penyebab insiden dan belum dapat disebut sebagai penyebab pasti tanpa hasil evaluasi lebih lanjut.
Kesimpulan
Insiden flying fox dalam rangkaian PBAK UIN SAIZU Purwokerto pada 19 Agustus 2026 sempat membuat suasana kegiatan menjadi tegang. Seorang mahasiswi mengalami benturan dan harus dievakuasi dari ketinggian sekitar 12–15 meter oleh tim SAR gabungan.
Kabar baiknya, korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, korban dinyatakan dalam kondisi baik, hanya mengalami memar akibat benturan, dan telah diperbolehkan pulang.
Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian sekaligus bahan evaluasi agar kegiatan mahasiswa yang melibatkan wahana berisiko dapat dilaksanakan dengan standar keselamatan yang lebih ketat.
