Lewati ke konten
Tribune Trend

Tribune Trend

  • Beranda
  • Blog
  • Muhasabah
  • Trending
  • Opini
  • Mutiara Salaf

Menatap Cermin Kemanusiaan dari Solo: Mengenang Kedermawanan Dokter Lo Siaw Ging

AI Summary

Ini adalah dalil yang sangat terang bahwa mengakui integritas sosial, kedermawanan, dan pembelaan terhadap kaum lemah yang ada pada diri non-muslim adalah hal yang diperbolehkan, bahkan dicontohkan oleh para pendahulu kita yang mulia.

Kita menghormati dan mengenang beliau sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang luar biasa, seorang dokter yang memegang teguh sumpah jabatan, dan seorang dermawan yang menjadi teladan nyata dalam kepedulian sosial.

Kisah hidupnya adalah pengingat berharga bagi kita semua yang masih bernapas: bahwa harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita tumpuk di dalam rekening, melainkan apa yang telah kita konversi menjadi manfaat bagi manusia yang membutuhkan.

X (Twitter)LinkedInFacebookWhatsApp

Dunia hari ini sering kali terasa begitu bising oleh transaksi dan hitung-hitungan materi. Di tengah deru zaman yang menuntut segala hal dikonversi menjadi rupiah, kita kadang tertegun ketika disodori sebuah kisah nyata yang menembus batas-batas kalkulasi matematika manusia. Kisah itu melekat erat pada satu nama di Kota Surakarta: Dokter Lo Siaw Ging.

Wafat dalam usia 89 tahun pada awal Januari 2024 lalu, Dokter Lo meninggalkan warisan cerita yang bukan sekadar urban legend atau pemanis linimasa. Beliau adalah potret nyata dari sebuah konsistensi pelayanan tanpa pamrih yang membentang selama lebih dari enam dekade. Bagi seorang muslim yang mempelajari agamanya dengan jernih, kisah kedermawanan Dokter Lo bukan sekadar bahan kekaguman kosong, melainkan sebuah cermin besar untuk berkaca: Sudah sejauh mana kita mengamalkan nilai-nilai kepedulian sosial yang sejatinya sangat ditekankan dalam syariat kita sendiri?

Kode Rahasia di Atas Kertas Resep

Bagi masyarakat Solo, khususnya mereka yang hidup di garis kemiskinan, Dokter Lo adalah tempat bersandar saat fisik melemah namun dompet tak punya daya. Praktik dokter yang ia jalani sejak tahun 1960-an tidak pernah memasang tarif tetap. Siapa pun yang datang, kaya atau miskin, akan dilayani dengan standar medis yang sama tinggi.

Namun, yang membuat namanya melegenda adalah sebuah kesepakatan senyap antara dirinya dengan beberapa apotek di sekitar tempat praktiknya. Dokter Lo paham betul bahwa penyakit tidak hanya butuh diagnosis, tapi juga obat. Dan obat-obatan berkualitas sering kali berharga mahal—sebuah kemewahan yang mustahil terjangkau oleh buruh gendong, tukang becak, atau buruh harian.

Di sinilah “operasi senyap” kemanusiaan itu bermula. Tiap kali menghadapi pasien yang benar-benar tidak mampu, Dokter Lo akan menggoreskan kode khusus pada kertas resepnya. Kode itu adalah instruksi rahasia bagi apotek: “Berikan obat terbaik yang dibutuhkan pasien ini, jangan tagih mereka sepeser pun. Kumpulkan semua bon tagihannya, dan serahkan kepada saya di akhir bulan.”

Setiap bulan, Dokter Lo merelakan sebagian besar pendapatan pribadinya terkuras habis hanya untuk menebus obat orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Beliau memegang teguh nasihat ayahnya saat ia pertama kali memilih jalur kedokteran: “Jika ingin kaya, jangan jadi dokter. Jadilah pengusaha.” Sebuah prinsip yang ia bawa dengan setia hingga embusan napas terakhirnya.

Menimbang Kebaikan Universal dalam Pandangan Islam

Mendengar kisah sedahsyat ini, wajar jika muncul pertanyaan di benak seorang penuntut ilmu: Bagaimana kita, sebagai muslim yang berusaha meniti Manhaj Salaf yang lurus, memandang dan mengambil keteladanan dari seorang non-muslim dalam urusan kebaikan sosial?

Islam adalah agama yang adil, objektif, dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam urusan akidah dan ibadah, batasannya sangat tegas dan tidak boleh dicampuradukkan. Namun dalam urusan muamalah, akhlak universal, dan kebaikan duniawi, Islam tidak pernah menutup mata dari kebenaran dan kebaikan yang dilakukan oleh siapa pun.

Teringat kita pada sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Sahabat Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar sebuah riwayat tentang tanda-tanda kiamat, lalu ia memberikan kesaksian dan pujian yang jujur terhadap bangsa Rum (Romawi yang saat itu beragama Nasrani). Beliau berkata bahwa bangsa Rum memiliki sifat-sifat mulia yang patut diakui:

“Sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling santun saat tertimpa fitnah (kekacauan), paling cepat bangkit setelah tertimpa musibah, paling cepat kembali menyerang setelah mundur dalam peperangan, dan yang terbaik sikapnya kepada orang miskin, anak yatim, serta orang-orang lemah.” (HR. Muslim no. 2898)

Imam Muslim mencantumkan riwayat ini tanpa pengingkaran. Ini adalah dalil yang sangat terang bahwa mengakui integritas sosial, kedermawanan, dan pembelaan terhadap kaum lemah yang ada pada diri non-muslim adalah hal yang diperbolehkan, bahkan dicontohkan oleh para pendahulu kita yang mulia. Kita memuji sifat dermawannya, kejujurannya, dan dedikasinya pada kemanusiaan sebagai bentuk objektivitas.

Tamparan Positif bagi Umat Islam

Kisah Dokter Lo seharusnya tidak sekadar menjadi bahan obrolan hangat di warung kopi, melainkan menjadi pemantik motivasi internal bagi setiap muslim.

Di dalam al-Qur’an dan Sunnah, perintah untuk memperhatikan fakir miskin, memberi makan orang lapar, dan melapangkan kesulitan sesama adalah pilar-pilar utama setelah tauhid. Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Ketika kita melihat seorang Dokter Lo yang menghabiskan umurnya, hartanya, dan energinya untuk menolong ribuan nyawa tanpa memandang suku dan agama, ego kita sebagai muslim harus terusik secara positif. Jika seseorang yang tidak seakidah dengan kita mampu menunjukkan level pengorbanan sosial setinggi itu demi nilai kemanusiaan universal, maka kita—yang dibekali dengan syariat Zakat, Infak, Sedekah, serta janji pahala jariyah yang mengalir hingga alam kubur—seharusnya bisa berbuat jauh lebih hebat dan lebih luas lagi.

Dokter Lo telah menunjukkan bahwa menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar adalah tugas universal. Beliau menjalankan profesinya dengan amanah yang paripurna, sebuah sifat yang dalam Islam dipandang sebagai bagian dari muruah (kehormatan diri) seorang profesional.

Catatan Akhir: Menghormati Jasa Tanpa Melanggar Batas Syar’i

Sebagai penutup, dalam mengenang sosok legendaris dari Kota Solo ini, kita menempatkan apresiasi kita pada porsi syar’i yang tepat. Kita menghormati dan mengenang beliau sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang luar biasa, seorang dokter yang memegang teguh sumpah jabatan, dan seorang dermawan yang menjadi teladan nyata dalam kepedulian sosial.

Tentu, sebagai bentuk konsistensi kita terhadap tuntunan fikih, kita tidak menyematkan doa-doa yang menjadi kekhususan umat Islam (seperti maghfirah atau husnul khatimah) setelah wafatnya. Namun, kita dengan penuh ketulusan mengakui: Solo, dan Indonesia secara luas, telah beruntung pernah memiliki seorang figur setulus Dokter Lo Siaw Ging.

Jejak kebaikan yang ia tinggalkan di atas kertas-kertas resep berkode rahasia itu akan terus bergema. Kisah hidupnya adalah pengingat berharga bagi kita semua yang masih bernapas: bahwa harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita tumpuk di dalam rekening, melainkan apa yang telah kita konversi menjadi manfaat bagi manusia yang membutuhkan. Semoga kisah ini memacu kita untuk menjadi pribadi-pribadi muslim yang lebih peka, lebih dermawan, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita. Ditulisnya artikel ini adalah bentuk penghormatan atas sejarah kebaikan yang tak boleh dilupakan.

Post Views: 8

13 Juli 2026

Menu

  • Beranda
  • Blog
  • Muhasabah
  • Trending
  • Opini
  • Mutiara Salaf

Kontak

pojok@tribunetrend.com

Sosial

  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • TikTok

Feeds

  • Experiment #1: Menangani Limbah Dapur Berlemak Menjadi Bahan Organik – Panduan Lengkap Step by Step
  • Menatap Cermin Kemanusiaan dari Solo: Mengenang Kedermawanan Dokter Lo Siaw Ging
  • Ironi Jembatan Enang-Enang: Ketika Swadaya Warga Menyingkap Kebuntuan Birokrasi
  • Ironi Jembatan Serayu Banyumas: Baru 5 Hari Rampung Diperbaiki, Kini Rusak Lagi Ditabrak Ekskavator
  • Brunei Darussalam, Sunnah, dan Harapan untuk Kebangkitan Umat Islam

© 2026 Tribune Trend. All rights reserved.