Di tengah derasnya arus informasi media sosial, terkadang sebuah potongan video mampu memancing diskusi yang jauh lebih luas daripada isi peristiwa itu sendiri. Hal itulah yang terjadi setelah beredarnya cuplikan video dari Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.
Video tersebut memperlihatkan suasana forum yang memanas. Seorang peserta tampak berdiri, berbicara dengan nada tinggi, bahkan menunjuk ke arah depan ruang sidang. Dalam hitungan jam, potongan video itu menyebar ke berbagai platform media sosial, grup WhatsApp, hingga forum-forum diskusi warga Nahdliyin. Komentar bermunculan dari berbagai arah. Ada yang menganggapnya sebagai bagian wajar dari dinamika organisasi besar. Ada pula yang merasa prihatin karena peristiwa itu terjadi di hadapan para ulama sepuh yang selama ini menjadi panutan umat.
Menariknya, perhatian publik tidak hanya tertuju pada substansi perdebatan yang terjadi. Banyak yang justru menyoroti satu hal yang lebih mendasar: adab.
Sebuah Forum Besar dengan Agenda Besar
Munas dan Konbes NU bukanlah forum biasa. Kegiatan tersebut merupakan salah satu ruang musyawarah tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama untuk membahas berbagai persoalan strategis yang menyangkut masa depan jam’iyah dan jamaah.
Tahun ini, forum diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, dengan tema besar “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.” Tema tersebut sesungguhnya sudah menggambarkan besarnya harapan yang dibebankan kepada forum tersebut.
Berbagai isu strategis dibahas menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Mulai dari persoalan organisasi, rekomendasi kebangsaan, penguatan pesantren, hingga berbagai agenda yang menyangkut masa depan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Tidak mengherankan apabila perdebatan dan perbedaan pendapat muncul dalam forum sebesar itu. Dalam organisasi yang menghimpun jutaan warga dan ribuan pesantren, mustahil semua pandangan selalu berjalan dalam satu garis lurus.
Namun di sinilah letak ujian sesungguhnya.
Ketika Potongan Video Menjadi Pengadilan Publik
Era media sosial memiliki karakter yang unik. Sebuah video berdurasi beberapa detik sering kali mampu membentuk opini publik sebelum kronologi lengkap berhasil diketahui.
Hal yang sama terjadi dalam kasus ini. Banyak orang yang langsung menyimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah hanya dari potongan adegan yang beredar.
Padahal hingga kini, tidak semua konteks forum diketahui secara utuh oleh publik. Apa yang dibahas saat itu? Siapa yang sedang berbicara? Apakah yang bersangkutan mendapat kesempatan menggunakan mikrofon? Kepada siapa sebenarnya kemarahan itu ditujukan? Semua pertanyaan tersebut belum sepenuhnya terjawab.
Namun ada satu hal yang sudah pasti terlihat oleh publik: suasana yang dianggap tidak lazim dalam forum yang dihadiri para masyayikh dan ulama sepuh.
Karena itulah, perdebatan publik kemudian bergeser dari substansi menuju persoalan etika.
Adab yang Menjadi Ciri Khas Pesantren
Dalam tradisi pesantren, adab sering kali ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu.
Bukan berarti ilmu tidak penting. Namun para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa ilmu yang tidak dibarengi adab justru berpotensi melahirkan kesombongan.
Para santri diajarkan bagaimana berbicara kepada guru, bagaimana menyampaikan keberatan, bagaimana mengemukakan pendapat, bahkan bagaimana duduk dan berjalan di hadapan orang yang dihormati.
Karena itu, ketika publik melihat suasana yang dianggap kurang mencerminkan penghormatan kepada para masyayikh, reaksi emosional pun tidak terhindarkan.
Banyak warga NU yang tidak mengetahui detail perdebatan dalam forum. Mereka juga mungkin tidak memahami secara utuh pokok persoalan yang sedang dibahas. Akan tetapi mereka memahami satu hal yang sangat sederhana: penghormatan kepada guru dan ulama.
Di mata sebagian warga Nahdliyin, inilah yang menjadi titik paling sensitif dari peristiwa tersebut.
Sosok Para Masyayikh di Tengah Forum
Perhatian publik semakin besar karena dalam forum tersebut hadir sejumlah ulama sepuh yang memiliki pengaruh besar di kalangan pesantren, termasuk KH Nurul Huda Djazuli dan KH Anwar Manshur.
Bagi warga NU, para masyayikh bukan sekadar tokoh organisasi. Mereka adalah penjaga tradisi keilmuan, pewaris sanad keilmuan pesantren, sekaligus simbol pemersatu ketika berbagai kelompok memiliki pandangan berbeda.
Keberadaan mereka sering kali menjadi peneduh ketika situasi mulai memanas.
Karena itu, banyak komentar yang beredar bukan membahas siapa pemenang perdebatan atau siapa yang kalah dalam forum. Yang muncul justru ungkapan kesedihan melihat suasana yang dianggap kurang pantas terjadi di hadapan para kiai sepuh.
Terlepas dari benar atau salahnya persepsi tersebut, hal itu menunjukkan bahwa posisi moral para masyayikh masih sangat kuat di mata jamaah.
Pernyataan Gus Yahya yang Menarik Dicermati
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan pernyataan yang bernada menyejukkan.
Beliau mengucapkan terima kasih kepada para masyayikh, khususnya KH Nurul Huda Djazuli dan KH Anwar Manshur, atas pengayoman, keberkahan, dan kekuatan ruhani yang diberikan selama berlangsungnya forum.
Yang menarik adalah pilihan kata yang digunakan.
Beliau menyebut para masyayikh sebagai “gantungan bagi kemaslahatan kita semua.”
Kalimat tersebut terasa lebih dalam daripada sekadar ucapan formal setelah sebuah acara selesai. Di dalamnya tersimpan pengakuan bahwa organisasi sebesar apa pun tetap membutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kuat.
Keputusan organisasi bisa dibuat melalui voting. Program kerja bisa dirancang oleh para ahli. Struktur kepengurusan bisa dibentuk dengan sangat rapi.
Namun kepercayaan umat tidak hanya dibangun oleh aturan organisasi. Ia juga dibangun oleh keteladanan, kebijaksanaan, dan kewibawaan moral para ulama.
Dunia yang Selalu Menguji
Dalam berbagai diskusi yang berkembang di media sosial, muncul pula perbincangan mengenai isu-isu strategis yang sedang dihadapi organisasi keagamaan, termasuk persoalan pengelolaan sumber daya ekonomi.
Sebagian orang mengaitkan ketegangan yang terjadi dengan isu-isu tersebut. Sebagian lainnya membantah dan menganggap hal itu hanya spekulasi.
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai dugaan yang beredar, satu pelajaran penting dapat diambil.
Sepanjang sejarah, ujian terbesar organisasi keagamaan bukanlah ketika mereka kekurangan sumber daya. Ujian terbesar justru datang ketika akses terhadap sumber daya semakin terbuka.
Kekuasaan, pengaruh, fasilitas, dan berbagai peluang ekonomi selalu memiliki daya tarik yang kuat. Tidak sedikit organisasi besar di berbagai negara mengalami konflik internal ketika kepentingan duniawi mulai bersinggungan dengan idealisme yang mereka perjuangkan.
Karena itu, transparansi, akuntabilitas, dan penguatan etika menjadi semakin penting.
Menjaga Marwah Bukan Tugas Pengurus Saja
Tema Munas dan Konbes tahun ini adalah “Menjaga Marwah.”
Marwah bukan sesuatu yang bisa dijaga hanya oleh ketua umum atau pengurus pusat. Marwah adalah tanggung jawab bersama.
Ia dijaga oleh peserta sidang ketika menyampaikan pendapat.
Ia dijaga oleh pengurus ketika mengambil keputusan.
Ia dijaga oleh warga ketika menyikapi perbedaan dengan kepala dingin.
Bahkan ia juga dijaga oleh pengguna media sosial ketika memilih untuk melakukan tabayyun sebelum menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Dalam konteks inilah, peristiwa yang viral tersebut dapat menjadi bahan renungan bersama.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Bahkan dalam sejarah Islam, para ulama besar sering kali memiliki pandangan yang berbeda dalam berbagai persoalan.
Namun yang membuat perbedaan itu tetap menjadi rahmat adalah adab.
Adab membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Adab membuat kritik tidak berubah menjadi penghinaan.
Adab membuat musyawarah tetap melahirkan kemaslahatan meskipun berlangsung dengan perdebatan yang keras.
Di era ketika semua orang dapat merekam, memotong, dan menyebarkan video dalam hitungan detik, menjaga adab menjadi semakin penting. Sebab apa yang terlihat oleh publik sering kali lebih membekas daripada apa yang sebenarnya diperdebatkan.
Penutup
Pada akhirnya, peristiwa yang ramai diperbincangkan ini mungkin akan berlalu sebagaimana banyak peristiwa lainnya. Video-video baru akan muncul, isu baru akan menggantikan isu lama, dan perhatian publik akan bergeser ke topik yang berbeda.
Namun ada satu pelajaran yang layak untuk terus diingat.
Jabatan akan berganti. Kepengurusan akan berubah. Forum demi forum akan datang dan pergi. Tetapi marwah sebuah organisasi keagamaan hanya dapat bertahan jika ditopang oleh adab, keteladanan, dan penghormatan kepada ilmu serta para pewarisnya.
Karena itulah, di tengah segala dinamika yang terjadi, mungkin nasihat para ulama terdahulu masih tetap relevan hingga hari ini: jangan sampai kemenangan dalam sebuah perdebatan membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu keberkahan.
Sebab organisasi dapat tumbuh dengan aturan, tetapi umat akan tetap bertahan bersama para pemimpinnya hanya jika mereka masih melihat akhlak dan adab berdiri tegak di dalamnya.
