Sauna sering menjadi pilihan untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Suasana hangat dan waktu untuk bersantai membuat sauna terasa menyenangkan bagi sebagian orang.
Namun, sauna bukan sekadar soal duduk di ruangan panas dan berkeringat. Suhu tinggi dapat membuat tubuh kehilangan cairan dan memengaruhi detak jantung serta tekanan darah. Karena itu, kondisi tubuh perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk sauna.
Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang sebaiknya menunda sauna atau berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
1. Sedang Dehidrasi
Sauna membuat tubuh mengeluarkan banyak keringat. Jika sejak awal tubuh sudah kekurangan cairan, paparan panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
Tanda-tandanya antara lain rasa haus berlebihan, mulut kering, sakit kepala, pusing, tubuh lemas, dan urine yang lebih gelap.
Pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan dan jangan memaksakan sauna ketika sedang mengalami dehidrasi.
2. Baru Mengonsumsi Alkohol
Sauna dan alkohol bukan kombinasi yang baik. Alkohol dapat meningkatkan risiko dehidrasi, sedangkan sauna juga menyebabkan tubuh kehilangan cairan melalui keringat.
Karena itu, sebaiknya hindari sauna setelah mengonsumsi alkohol.
3. Sedang Demam atau Tidak Enak Badan
Ketika sedang demam atau sakit, tubuh sudah bekerja untuk mengatasi kondisi tersebut. Menambahkan paparan panas dari sauna bukan pilihan yang tepat.
Lebih baik beristirahat dan menunggu kondisi tubuh membaik sebelum kembali melakukan sauna.
4. Sedang Hamil
Kehamilan membutuhkan perhatian khusus terhadap paparan panas. Sauna dapat meningkatkan suhu tubuh dan menyebabkan kehilangan cairan, menyebabkan dehidrasi, pusing, tekanan darah turun, gangguan aliran darah ke rahim, hingga masalah pada pertumbuhan janin.
Ibu hamil tidak dianjurkan untuk melakukan sauna.
5. Memiliki Masalah Jantung atau Tekanan Darah Tertentu
Panas dari sauna dapat meningkatkan detak jantung dan memengaruhi tekanan darah.
Orang dengan kondisi jantung tertentu atau tekanan darah yang tidak terkontrol sebaiknya tidak langsung menggunakan sauna tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Ini bukan berarti semua orang dengan masalah jantung otomatis dilarang sauna. Keamanan sauna bergantung pada kondisi masing-masing dan sebaiknya konsultasikan pada dokter terlebih dahulu.
6. Baru Mengalami Serangan Jantung atau Stroke
Jika seseorang baru mengalami serangan jantung atau stroke, sauna bukan aktivitas yang sebaiknya dilakukan tanpa arahan medis.
Tubuh membutuhkan masa pemulihan dan kondisi kardiovaskular perlu dinilai terlebih dahulu. Karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang lebih aman.
7. Sedang Mengonsumsi Obat Tertentu
Beberapa jenis obat dapat memengaruhi tekanan darah, keseimbangan cairan, keringat, atau kemampuan tubuh dalam merespons panas.
Jika sedang rutin mengonsumsi obat, terutama obat untuk jantung atau tekanan darah, sebaiknya tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah sauna aman untuk kondisi tersebut.
Jangan Abaikan Sinyal Tubuh
Tidak hanya kondisi kesehatan tertentu yang perlu diperhatikan. Saat berada di sauna, tubuh tetap harus menjadi prioritas.
Jika muncul pusing, mual, lemas, sesak napas, kebingungan, atau rasa tidak nyaman yang berlebihan, segera keluar dari sauna dan pindah ke tempat yang lebih sejuk.
Jangan memaksakan diri hanya karena ingin bertahan lebih lama.
Untuk pemula, sebaiknya mulai dengan waktu yang singkat dan lihat bagaimana tubuh merespons.
Sauna untuk Relaksasi, Bukan untuk Memaksakan Tubuh
Sauna dapat menjadi bagian dari rutinitas relaksasi bagi orang yang sehat dan mampu mentoleransi panas dengan baik. Namun, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda.
Sebelum sauna, pastikan tubuh cukup terhidrasi, hindari alkohol, dan jangan menggunakan sauna ketika sedang sakit atau merasa tidak fit.
Jika memiliki kondisi medis tertentu, sedang hamil, baru mengalami masalah kesehatan serius, atau mengonsumsi obat secara rutin, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, sauna seharusnya membuat tubuh terasa lebih rileks dan nyaman. Jangan mengejar keringat atau durasi terlalu lama sampai mengabaikan sinyal tubuh.
Kenali kondisi diri sendiri sebelum masuk sauna, karena mengetahui kapan harus berhenti jauh lebih penting daripada sekadar bertahan lebih lama.
