Media sosial kembali ramai setelah beredar pernyataan Menteri Kesehatan yang menyebut bahwa penderita TBC memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga pemberian makanan bergizi dapat membantu mempercepat pemulihan. Bahkan muncul wacana agar penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat difokuskan kepada penderita TBC.
Secara sekilas, pernyataan tersebut tampak sederhana. Siapa yang akan membantah bahwa orang sakit membutuhkan makanan bergizi? Namun yang terjadi di ruang publik ternyata jauh lebih kompleks. Alih-alih membahas manfaat gizi bagi penderita TBC, perdebatan justru melebar ke kualitas MBG, anggaran, korupsi, lapangan kerja, hingga kritik terhadap pemerintah secara umum.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Sebab jika diperhatikan lebih dalam, yang sedang diperdebatkan sebenarnya bukan TBC. Yang sedang diperdebatkan adalah kepercayaan.
Ketika Masalah TBC Bergeser Menjadi Masalah MBG
Dalam ilmu kesehatan, tidak ada kontroversi besar mengenai pentingnya gizi bagi penderita TBC.
TBC adalah penyakit infeksi yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Pasien harus mengonsumsi obat secara rutin selama berbulan-bulan. Pada saat yang sama, tubuh memerlukan energi dan nutrisi yang cukup untuk membantu proses pemulihan.
Dengan kata lain, obat dan gizi bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Keduanya saling melengkapi.
Namun sebagian besar respons masyarakat tidak membahas hal tersebut. Banyak komentar yang justru mempertanyakan kualitas program MBG itu sendiri.
Ada yang mengatakan bahwa masalah utama penderita TBC bukan kekurangan makanan, melainkan kepatuhan minum obat. Ada pula yang mempertanyakan apakah menu MBG benar-benar memenuhi kebutuhan gizi pasien TBC. Sebagian lainnya mengungkit berbagai kasus makanan yang dianggap tidak layak atau dugaan keracunan yang pernah muncul di beberapa daerah.
Pertanyaan yang sering muncul bukan lagi:
“Apakah penderita TBC membutuhkan makanan bergizi?”
Melainkan:
“Apakah makanan yang diberikan melalui MBG benar-benar bergizi?”
Perubahan fokus inilah yang membuat diskusi menjadi semakin panas.
Kritik yang Sebenarnya Tidak Selalu Menolak Gizi
Menariknya, banyak kritik yang beredar sebenarnya tidak menolak pentingnya makanan bergizi.
Sebagian besar justru mempertanyakan kualitas implementasi.
Mereka bertanya:
- Siapa yang menyusun menu?
- Apakah ahli gizi dilibatkan?
- Berapa kandungan protein per porsi?
- Berapa kebutuhan kalori penderita TBC?
- Apakah ada kajian ilmiah yang mendukung kebijakan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pada dasarnya adalah pertanyaan yang sah dalam sebuah kebijakan publik.
Masyarakat ingin mengetahui apakah program yang dibiayai oleh uang negara benar-benar mampu mencapai tujuan yang diharapkan.
Masalahnya, dalam suasana politik yang panas, pertanyaan teknis sering kali bercampur dengan emosi. Akibatnya, diskusi yang seharusnya berbasis data berubah menjadi saling serang.
Fenomena “Ngadi-adi” dalam Perdebatan Publik
Dalam budaya Jawa dikenal istilah ngadi-adi.
Secara sederhana, istilah ini menggambarkan keadaan ketika seseorang dianggap terlalu banyak mengada-ada, mempersulit persoalan, atau membuat argumen yang terasa dipaksakan.
Dalam konteks perdebatan MBG dan TBC, tuduhan ngadi-adi muncul dari berbagai arah.
Sebagian pengkritik menganggap pemerintah sedang ngadi-adi karena berbicara soal gizi TBC sementara kualitas makanan yang diberikan dianggap belum jelas.
Di sisi lain, pendukung kebijakan mungkin melihat para pengkritik juga sedang ngadi-adi karena membahas berbagai isu lain yang tidak berkaitan langsung dengan manfaat gizi bagi pasien TBC.
Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama merasa sedang membela logika, sementara pihak lawan dianggap tidak memahami inti persoalan.
Krisis Kepercayaan yang Sulit Disembunyikan
Jika seluruh komentar dalam diskusi tersebut disatukan, tampak satu pola yang sangat jelas.
Masalah utamanya bukan soal makanan.
Masalah utamanya adalah kepercayaan.
Sebagian masyarakat tampak tidak lagi memberi manfaat keraguan (benefit of the doubt) kepada pemerintah.
Ketika ada program baru, respons pertama yang muncul bukan rasa ingin tahu, melainkan kecurigaan.
Ketika ada kebijakan baru, pertanyaan pertama bukan mengenai manfaatnya, melainkan mengenai kemungkinan penyimpangannya.
Keadaan ini tentu tidak muncul dalam semalam.
Kepercayaan publik dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa terkikis oleh berbagai pengalaman buruk, baik yang nyata maupun yang hanya dipersepsikan demikian oleh masyarakat.
Akibatnya, bahkan kebijakan yang secara teori masuk akal pun sering kali langsung ditolak sebelum sempat diuji hasilnya.
Bantuan Sosial atau Lapangan Kerja?
Di tengah diskusi tersebut muncul pula kritik yang berbeda arah.
Menurut sebagian masyarakat, persoalan utama rakyat bukan kurangnya program bantuan, melainkan kurangnya kesempatan kerja dan rendahnya daya beli.
Pandangan ini dapat dirangkum dalam satu kalimat sederhana:
“Rakyat tidak ingin diberi makan. Rakyat ingin mampu membeli makanan sendiri.”
Bagi kelompok ini, solusi ideal bukan memperluas bantuan, melainkan:
- menstabilkan harga pangan,
- membuka lapangan kerja,
- meningkatkan pendapatan masyarakat.
Argumen tersebut memiliki logikanya sendiri.
Ketika seseorang memiliki pekerjaan yang layak dan penghasilan yang cukup, ia tidak perlu bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun di sisi lain, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, atau penderita penyakit tertentu tetap membutuhkan perlindungan sosial pada kondisi tertentu.
Karena itu, perdebatan sebenarnya bukan memilih salah satu di antara bantuan sosial atau penciptaan lapangan kerja. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan bisa berjalan bersamaan.
Antara Program dan Pelaksanaan
Di tengah banyaknya kritik keras, ada satu pandangan yang cukup menarik.
Pandangan tersebut mengatakan bahwa tujuan program MBG sebenarnya baik.
Yang perlu diperbaiki adalah pelaksanaannya.
Ini merupakan posisi yang relatif moderat.
Mereka tidak menolak pentingnya gizi.
Mereka juga tidak menolak perlunya intervensi pemerintah.
Namun mereka menuntut adanya perbaikan dalam:
- kualitas menu,
- pengawasan distribusi,
- transparansi anggaran,
- evaluasi program,
- pelibatan tenaga ahli.
Pendekatan seperti ini mungkin lebih produktif dibanding sekadar saling mencaci.
Sebab sebuah program publik tidak harus sempurna sejak hari pertama. Tetapi program tersebut harus memiliki mekanisme perbaikan yang jelas ketika ditemukan kekurangan.
Pertanyaan yang Justru Jarang Dibahas
Yang paling menarik dari seluruh perdebatan ini adalah apa yang tidak dibahas.
Sangat sedikit orang yang bertanya:
- Berapa jumlah penderita TBC yang mengalami kekurangan gizi?
- Berapa kebutuhan nutrisi mereka?
- Berapa biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
- Seberapa besar pengaruh perbaikan gizi terhadap keberhasilan terapi TBC?
- Apakah ada penelitian yang mendukung pendekatan tersebut?
Padahal pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi pusat diskusi.
Tanpa data, perdebatan hanya akan berputar pada asumsi.
Satu pihak berasumsi program akan berhasil.
Pihak lain berasumsi program akan gagal.
Sementara fakta yang sebenarnya justru tenggelam di antara kebisingan opini.
Penutup
Ramainya perdebatan mengenai pemberian MBG kepada penderita TBC menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat peduli terhadap kebijakan publik. Itu adalah hal yang positif.
Namun diskusi tersebut juga memperlihatkan adanya jurang kepercayaan yang cukup lebar antara pemerintah dan sebagian masyarakat.
Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal TBC. Bukan pula semata-mata soal makanan bergizi.
Ini adalah cerminan hubungan antara negara dan rakyatnya.
Ketika kepercayaan tinggi, masyarakat cenderung memberi kesempatan kepada sebuah kebijakan untuk membuktikan dirinya.
Sebaliknya, ketika kepercayaan rendah, setiap kebijakan akan langsung dicurigai bahkan sebelum hasilnya terlihat.
Karena itu, tugas pemerintah bukan hanya membuat program yang baik. Tugas yang tidak kalah penting adalah membangun kepercayaan bahwa program tersebut benar-benar dijalankan dengan baik, diawasi dengan baik, dan dievaluasi dengan jujur.
Sebab pada akhirnya, makanan bergizi mungkin dapat membantu menyembuhkan tubuh. Tetapi kepercayaan publik adalah nutrisi yang membantu menjaga sehatnya sebuah negara.
