JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat pertumbuhan penyaluran kredit yang cukup kuat hingga akhir Triwulan II 2026. Kredit dan pembiayaan BRI Group mencapai Rp1.646 triliun, atau tumbuh 16,2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator positif kinerja BRI di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan. Perseroan menyebut pertumbuhan bisnis tersebut tetap diiringi dengan upaya menjaga kualitas aset, memperkuat fundamental, serta meningkatkan efisiensi.

Data tersebut disampaikan BRI dalam pemaparan kinerja keuangan Triwulan II 2026 di Jakarta pada 31 Agustus 2026. Dalam laporan tersebut, pertumbuhan kredit BRI juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang berada di angka 12,7 persen yoy pada periode yang sama.

Kredit UMKM Jadi Penopang Utama

Gambar ilustrasi

Meski melakukan diversifikasi bisnis, BRI tetap mempertahankan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu fokus utama.

Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit yang disalurkan kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 8,6 persen yoy dan menyumbang sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Besarnya porsi pembiayaan UMKM menunjukkan bahwa ekspansi kredit BRI masih berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Pelaku usaha mikro hingga menengah menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan untuk menjalankan maupun mengembangkan usahanya.

BRI juga terus mendorong pemberdayaan UMKM agar pembiayaan tidak berhenti pada pemberian kredit. Pendekatan tersebut dilakukan melalui berbagai program pendampingan dan pengembangan kapasitas usaha.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Sementara itu, program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

BRI juga menyebut platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Selain itu, pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Kinerja BRI Ikut Menguat

Pertumbuhan kredit tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kinerja keuangan BRI. Hingga akhir Triwulan II 2026, BRI Group mencatat laba bersih Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi aset, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, atau meningkat 11,7 persen yoy. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income juga meningkat 9,9 persen yoy, dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI naik 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

Pertumbuhan bisnis tersebut juga diikuti dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental. Cost of Fund secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada Triwulan II 2026.

Efisiensi operasional juga mengalami perbaikan. Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) membaik dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen.

Dorong Pertumbuhan yang Berkelanjutan

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan dari sisi jumlah kredit maupun laba. Menurutnya, kualitas pertumbuhan menjadi hal penting agar ekspansi bisnis dapat berlangsung secara berkelanjutan.

BRI menjalankan agenda transformasi melalui BRIVolution Reignite. Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat pendanaan, memperbaiki bisnis inti, serta membangun sumber pertumbuhan baru.

Digitalisasi juga menjadi bagian dari strategi tersebut. BRI terus mengoptimalkan berbagai kanal digital dan ekosistem transaksi, termasuk BRImo, QRIS, serta BRILink.

Di sisi lain, BRI tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan. Hal ini penting agar peningkatan kredit tetap diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga.

Pertumbuhan kredit sebesar 16,2 persen hingga Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa aktivitas pembiayaan BRI masih memiliki momentum kuat. Dengan porsi kredit UMKM yang mencapai 75,1 persen, ekspansi tersebut juga memperlihatkan besarnya peran BRI dalam menyediakan akses pembiayaan bagi sektor ekonomi kerakyatan.

Ke depan, tantangan bagi BRI bukan hanya mempertahankan pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan ekspansi tersebut tetap sehat, berkualitas, dan memberikan dampak bagi masyarakat serta perekonomian Indonesia.

Sumber Referensi : BRI