
Dunia digital hari ini bergerak terlalu cepat, bahkan terkadang melompat melampaui nalar sehat kita. Beberapa tahun lalu, kita mungkin hanya mengenal scam atau penipuan internet dalam bentuk pesan teks singkat pembagian hadiah atau tautan palsu (phishing) yang dikirim melalui aplikasi perpesanan. Namun hari ini, di tahun 2026, wajah penipuan telah bermutasi menjadi sangat anggun, religius, dan berwibawa. Mereka mewujud dalam bentuk video berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang mampu meraup jutaan pengikut hanya dalam hitungan minggu.
Salah satu fenomena yang sedang viral dan menjadi buah bibir adalah melejitnya akun-akun kreator virtual seperti “Hajar” (@nia.hajar_s). Dengan modal visual wanita berhijab yang tampak tenang, teduh, dan memancarkan energi positif, akun tersebut sukses mengumpulkan lebih dari 1,1 juta pengikut dan mendulang belasan juta suka dalam waktu singkat. Di permukaan, akun ini terlihat seperti oase penyejuk hati yang membagikan konten motivasi Islami. Namun jika kita bersedia menggores sedikit saja lapisan luar estetika tersebut, kita akan menemukan sebuah ironi besar: sebuah industri digital yang memanfaatkan sentimen agama demi keuntungan komersial, tanpa dibekali tanggung jawab keilmuan sedikit pun.
Sebagai Muslim yang hidup di era banjir informasi ini, kita harus mulai bertanya dengan kritis: Bagaimana posisi akun berbasis video AI ini di mata syariat? Apa rahasia di balik kesuksesan instan mereka? Dan yang paling bahaya, bagaimana teknologi ini sekarang digunakan untuk menggiring penonton ke dalam lubang penipuan berlapis yang saking naturalnya, hingga membuat korban tertipu untuk kedua kalinya?
Mari kita bedah fenomena ini secara mendalam, hitam di atas putih, berdasarkan perspektif sains digital dan tuntunan syariat Islam yang murni.
Memahami Posisi Akun Berbasis Video AI: Ilusi Tanpa Ruh
Untuk memahami mengapa akun-akun seperti ini bisa meledak, kita harus memosisikan video AI pada tempatnya yang jujur. Karakter seperti Hajar yang kita lihat berbicara, berkedip, dan tersenyum di layar ponsel kita pada hakikatnya bukanlah manusia. Dia tidak pernah lahir, tidak memiliki keluarga, tidak pernah menuntut ilmu di madrasah, dan tidak memiliki detak jantung. Dia hanyalah kumpulan piksel warna dan barisan kode algoritma yang digerakkan oleh mesin berdasarkan perintah teks (prompt) yang dimasukkan oleh seorang operator di balik layar komputer.
Dalam industri digital, fenomena ini disebut sebagai Virtual Influencer atau AI-Generated Creator. Posisi mereka di media sosial murni sebagai alat taktis pemasaran (marketing tools). Mereka diciptakan bukan karena sang pemilik akun peduli terhadap masa depan spiritual umat, melainkan karena karakter fiktif ini memiliki efisiensi kerja yang tidak terbatas. Karakter AI tidak pernah lelah, tidak butuh bayaran, tidak memerlukan studio syuting yang mahal, dan bisa memproduksi puluhan video dalam sehari hanya dengan sekali klik.
Namun di sinilah letak cacat fundamentalnya: Akun berbasis video AI adalah ruang hampa tanpa ruh.
Dakwah dan nasihat agama dalam Islam bukan sekadar pertunjukan seni olah vokal atau kecantikan visual. Dakwah adalah transfer keberkahan, keteladanan akhlak, dan pertanggungjawaban ilmiah dari seorang guru (mudarrib) kepada muridnya. Ketika kita menyerahkan perhatian, emosi, dan kepercayaan kita kepada sebuah karakter AI yang membacakan teks motivasi acak dari internet, kita sedang berguru pada sebuah kekosongan.
Rahasia di Balik Kesuksesan Instan: Modus Operandi Psikologi Massa
Mengapa akun seperti “Hajar” bisa mendapatkan 1,1 juta pengikut dengan begitu mudah, sementara para ustadz dan ulama nyata yang belajar belasan tahun di Timur Tengah atau pesantren lokal tertatih-tatih membangun audiens? Jawabannya terletak pada manipulasi psikologis dan pemanfaatan celah algoritma media sosial secara cerdik.
Ada beberapa “rahasia dapur” mengapa akun video AI bertema agama sangat mudah mendominasi beranda kita:
1. Eksploitasi Halo Effect secara Sempurna
Manusia secara alami memiliki bias kognitif yang disebut Halo Effect, yaitu kecenderungan untuk menilai karakter atau kredibilitas seseorang berdasarkan penampilan fisiknya. Algoritma AI dirancang untuk memformulasikan wajah tiruan manusia yang “sempurna”—wajah yang simetris, tatapan mata yang teduh, dan warna kulit yang disesuaikan untuk menimbulkan rasa nyaman instant. Ketika visual yang menenangkan ini dipadukan dengan latar belakang musik yang syahdu (seperti instrumen selawat atau narasi puitis), benteng kritis dalam otak manusia awam akan runtuh. Mereka langsung menyimpulkan, “Orang ini pasti shalihah, ucapannya pasti benar.” Padahal, sosok itu tidak nyata.
2. Konsistensi Brutal yang Disukai Algoritma
Algoritma TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts bekerja berdasarkan hukum kuantitas dan retensi penonton. Kreator manusia biasa mungkin hanya sanggup memproduksi 1 atau 2 video berkualitas dalam seminggu karena keterbatasan energi. Namun, kreator AI bisa membanjiri platform dengan 5 hingga 10 video per hari. Konten yang diunggah secara konsisten dan masif ini memaksa algoritma untuk terus mendorong video tersebut ke lini masa masyarakat luas, menciptakan efek bola salju yang mempercepat penambahan pengikut secara eksponensial.
3. Komersialisasi Berkedok Sifat Rendah Hati
Jika Anda perhatikan bio profil akun-akun semacam ini, mereka sering kali menuliskan kalimat-kalimat yang sangat menyentuh dan terkesan rendah hati, seperti: “Sebaik-baiknya diriku, lebih baik dirimu. Seburuk-buruknya diriku, lebih buruk diriku.” Ini adalah teknik copywriting tingkat tinggi untuk membangun kedekatan emosional (rapport) dengan netizen.
Namun, perhatikan baris tepat di bawah kalimat syahdu tersebut. Di sana biasanya bertengger sebuah tombol: “Showcase” atau keranjang belanja. Di sinilah motif aslinya terungkap. Jutaan pengikut dan belasan juta suka yang berhasil dikumpulkan melalui narasi agama tersebut ujung-ujungnya dikonversi menjadi mesin uang melalui skema afiliasi penjualan barang atau promosi komersial. Agama telah dikemas sedemikian rupa menggunakan teknologi tercanggih demi keuntungan duniawi yang murah.
Mengapa Ulama Melarang? Keilmuan yang Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan
Alasan mendasar mengapa para ulama, khususnya para pakar hukum Islam dan ahli hadis, memandang sinis bahkan melarang ketergantungan terhadap akun-akun dakwah berbasis AI ini adalah masalah validitas keilmuan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam tradisi Islam, ilmu agama bukanlah barang dagangan gratisan yang boleh dipungut dari sembarang tempat. Ilmu agama memiliki garis pengaman yang sangat ketat yang disebut Sanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar dari generasi tabat tabi’in, pernah mengeluarkan sebuah kaidah emas yang menjadi pilar keselamatan akidah kita:
“Sanad itu bagian dari agama. Sekiranya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata apa saja sekehendak hatinya.” (Riwayat Muslim)
Ketika sebuah video AI berbicara tentang hukum halal-haram, membacakan sebuah hadis fadhilah amal, atau menuturkan sebuah kisah tentang hari kiamat, dari mana mesin tersebut mengambil datanya? Mesir? Arab Saudi? Bukan. Mesin AI mengambil data dengan cara mencakar (scraping) seluruh teks yang ada di internet secara acak.
Mesin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana hadis yang berstatus sahih, lemah (dha’if), atau palsu (maudhu’). Akibatnya, akun-akun AI ini sangat sering membeberkan kisah-kisah fiktif, riwayat Israiliyyat, atau hadis palsu yang sengaja dibuat untuk menyentuh emosi pendengar demi mengejar interaksi digital (views dan likes). Jika terjadi kesalahan fatal dalam penyampaian fatwa atau hadis pada video tersebut, kepada siapa kita akan meminta pertanggungjawaban? Kepada robot? Kepada karakter piksel di layar ponsel kita? Tentu saja tidak bisa. Di sinilah letak bahayanya: agama menjadi kabur, kehilangan otoritasnya, dan setiap orang bisa menciptakan “ustadz versi mereka sendiri” dengan bantuan teknologi.
Anatomi Jebakan Berlapis: Skenario Penipuan “Deepfake” yang Menggiring Korban Dua Kali
Bahaya dari akun AI bertema agama ini tidak berhenti sekadar pada masalah konten motivasi atau penjualan barang di toko daring. Di tingkat yang lebih ekstrem dan gelap, teknologi manipulasi video AI (deepfake) kini telah bertransformasi menjadi alat penipuan (scam) finansial tingkat tinggi yang sangat rapi dan natural.
Mari kita bedah skenario riil yang sedang marak terjadi di masyarakat kita saat ini. Skenario ini sangat berbahaya karena dirancang khusus untuk menipu korban yang sama untuk kedua kalinya dengan memanfaatkan rasa syukur dan kelegaan mereka.
Skenario Lapisan Pertama: Penipuan atas Nama Ustadz Kondang
Banyak dari kita pasti pernah melihat iklan atau video pendek di media sosial yang menampilkan sosok ustadz populer—katakanlah kita beri nama fiktif Ustadz Akhmad Fulan. Dalam video tersebut, wajah dan suara Ustadz Akhmad Fulan terlihat sangat nyata (padahal itu adalah hasil manipulasi video AI deepfake). Video palsu itu menarasikan bahwa Ustadz Akhmad Fulan sedang mengadakan program investasi syariah, penggalangan dana darurat untuk Palestina, atau penjualan obat herbal ajaib penawar segala penyakit. Karena penonton percaya dan sangat menghormati sang ustadz, mereka tanpa ragu mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening yang tertera di video tersebut. Beberapa hari kemudian, barulah mereka sadar bahwa uang mereka raib dan sang ustadz tidak pernah mengadakan program tersebut. Ini adalah jebakan pertama.
Skenario Lapisan Kedua: Pahlawan Kesiangan yang Menggiring Korban Tetap Tertipu (The Second Trap)
Di sinilah kecerdikan iblis para pelaku kejahatan siber berbasis AI bekerja. Alih-alih berhenti setelah menguras uang korban di fase pertama, para penipu ini membuat sebuah akun AI baru lagi atau video kloningan baru yang berpura-pura menjadi “Akun Penyelamat” atau “Gerakan Anti-Scam”.
Video kedua ini dibuat dengan narasi yang luar biasa natural, memanfaatkan teknik psikologi reverse psychology (psikologi terbalik). Konten video tersebut biasanya menampilkan pembawa acara AI yang tampak sangat tegas dan berwibawa, lalu mulai mencela dan mengutuk keras aksi penipuan di lapisan pertama tadi:
“Astaghfirullahal’adzim! Sungguh biadab para penipu saat ini yang tega mencela dan melakukan penipuan atas nama ustadz kita, Ustadz Akhmad Fulan. Banyak jamaah yang sudah menjadi korban kehilangan uang hingga puluhan juta rupiah karena video palsu buatan AI tersebut…”
Mendengar kalimat pembuka ini, korban yang baru saja tertipu di fase pertama akan langsung merasa terwakili emosinya. Mereka akan bergumam dalam hati, “Nah, benar sekali! Akun ini tahu kalau saya baru saja ditipu!”
Lalu, video AI tersebut melanjutkan narasinya dengan intonasi yang penuh rasa syukur dan menawarkan solusi instan yang terdengar sangat meyakinkan:
“Namun, Alhamdulillah… Hari ini kami sudah berhasil melacak dan bertemu langsung dengan akun yang asli serta tim cyber resmi dari Ustadz Akhmad Fulan. Bagi para jamaah yang kemarin sempat menjadi korban penipuan atas nama beliau, tim resmi ini siap membantu Anda untuk mengatasi masalah ini, melacak uang Anda yang hilang, dan mengembalikannya secara utuh tanpa biaya sepeser pun. Silakan klik tombol ‘Hubungi Kami’ di bawah ini untuk tersambung ke layanan pengaduan resmi pusat…”
Saking naturalnya akting, intonasi suara, dan visualisasi video penyelamat ini, korban yang sedang dalam kondisi panik dan berharap uangnya kembali akan langsung kehilangan kewaspadaannya untuk kedua kali. Mereka merasa telah menemukan oase di tengah gurun pasir.
Ketika mereka mengeklik tautan tersebut, mereka akan digiring ke sebuah situs web palsu atau nomor WhatsApp bodong. Di sana, mereka akan diminta untuk memasukkan data perbankan sensitif, nomor OTP, atau bahkan diminta membayar “biaya administrasi pencairan uang hilang”. Hasil akhirnya? Korban sukses tertipu untuk kedua kalinya oleh jaringan penipu yang sama, menggunakan teknologi AI yang sama, hanya dengan berganti topeng dari penjahat menjadi pahlawan.
Tinjauan Syariat: Dalil Hadits Pelarangan Visualisasi Makhluk Bernyawa
Melihat besarnya dampak kerusakan, manipulasi emosi, dan potensi penipuan massal yang diakibatkan oleh pembuatan video karakter fiktif bernyawa ini, pandangan tajam Anda sangatlah terbukti benar. Penggunaan AI untuk menciptakan video manusia bergerak yang seolah hidup memiliki derajat konsekuensi syariat yang sangat berat.
Mari kita tengok kembali fondasi dalil-dalil nubuwah dari Rasulullah ﷺ yang melarang keras aktivitas Tashwir (membuat visualisasi/gambar makhluk bernyawa). Larangan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena Rasulullah ﷺ dengan pandangan wahyunya sudah memprediksi bahwa visualisasi makhluk hidup di masa depan akan menjadi sarana fitnah dan pengaburan kebenaran yang paling dahsyat.
Dalil Pertama: Ancaman Siksaan Terberat bagi Para Pembuat Visualisasi
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabar dengan sangat tegas:
“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah para mushawwir (pembuat gambar/visualisasi makhluk bernyawa).” (Sahih Bukhari, No. 5950 dan Sahih Muslim, No. 2109)
Dalil Kedua: Tantangan untuk Meniupkan Ruh
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang membuat satu gambar (makhluk bernyawa), maka Allah akan menyiksanya pada Hari Kiamat hingga ia dipaksa untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut, padahal ia selamanya tidak akan pernah mampu meniupkannya.” (Sahih Bukhari, No. 5963)
Jika kita mengorelasikan hadis ini dengan teknologi video AI modern, esensi dari tantangan “meniupkan ruh” itu terasa sangat relevan. Para pembuat video AI saat ini menggunakan algoritma komputer untuk memaksa sebuah gambar mati agar bisa bergerak, berkedip, berbicara dengan jeda napas yang diatur, dan berekspresi layaknya manusia yang memiliki ruh hidup. Meskipun mereka berdalih ini hanyalah kode digital di layar handphone, namun secara visual, hasil karyanya menantang batas keserupaan dengan ciptaan Allah (tasyabbuh bi khalqillah) pada level yang jauh lebih ekstrem daripada sekadar lukisan kuas di atas kanvas abad ke-7.
Dalil Ketiga: Penghalang Masuknya Malaikat Rahmat
Dari Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa).” (Sahih Bukhari, No. 3225 dan Sahih Muslim, No. 2106)
Bayangkan jika layar digital kita, akun media sosial kita, dan konsumsi visual harian kita dipenuhi oleh karakter-karakter buatan komputer yang melanggar batasan syariat ini, bagaimana mungkin keberkahan ilmu dan ketenangan batin yang hakiki bisa meresap ke dalam hati kita?
Nasihat untuk Berhati-Hati: Utamakan Keselamatan Akidah dan Dunia Anda
Dunia digital adalah medan perang pemikiran dan ekonomi. Di era AI ini, modal utama para penipu dan pemburu materi bukan lagi senjata, melainkan kelengahan dan kepolosan kita sebagai pengguna media sosial. Oleh karena itu, mari kita renungkan dan praktikkan beberapa poin nasihat keselamatan berikut ini:
1. Jangan Pernah Percaya pada Visual Digital secara Instan
Prinsip dasar hidup di era modern saat ini adalah: Semua yang Anda lihat dan Anda dengar di layar kaca bisa dipalsukan. Jangan pernah lagi mengambil keputusan finansial, hukum, atau keyakinan akidah hanya karena melihat sebuah video yang menampilkan wajah ustadz kondang atau wanita berhijab yang tampak shalihah. Tanamkan rasa curiga yang sehat (healthy skepticism) di dalam pikiran Anda setiap kali melihat video yang mengarah pada pengumpulan uang, investasi, atau pengalihan isu darurat.
2. Utamakan Prinsip Keselamatan (Safety First)
Jika Anda sudah terlanjur menjadi korban penipuan di internet pada fase pertama, tutup semua akses komunikasi Anda dengan pihak-pihak tidak dikenal. Sadarilah bahwa tidak ada instansi ajaib, akun cyber bayangan, atau tim relawan ustadz di media sosial yang bisa mengembalikan uang Anda yang hilang dalam sekejap dengan meminta data pribadi Anda kembali. Uang yang sudah ditransfer ke rekening penipu hampir 99% tidak bisa kembali secara instan kecuali melalui jalur hukum resmi kepolisian dan perbankan nasional. Jangan biarkan rasa panik membuat Anda membuka pintu rumah Anda untuk dirampok kedua kalinya oleh penipu berbaju pahlawan siber.
3. Kembalilah pada Metode Belajar Tradisional (Talaqqi)
Guna menghindari racun syubhat dan hadis-hadis palsu yang berseliweran dari mulut para ustadz virtual buatan AI, mulailah melangkah keluar dari kamar Anda. Datangi masjid-masjid jami’ di lingkungan rumah Anda, duduklah di majelis-majelis ilmu yang diasuh oleh para ulama nyata yang jelas wajahnya, jelas asal-usul gurunya, jelas sanad keilmuannya, dan lurus akidahnya. Bertanyalah secara langsung (tatap muka) jika menemui keraguan dalam urusan agama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas dalam Al-Qur’an:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) diciptakan untuk membantu pekerjaan teknis manusia, bukan untuk menggantikan posisi ulama sebagai pewaris para nabi. Jadilah netizen yang cerdas, jaga akidah Anda dari riwayat palsu, dan lindungi harta Anda dari jebakan penipu digital yang licik. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Muslim dari fitnah akhir zaman yang menyesatkan. Wallahu A’lam bish-shawab.
