Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat. Aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal September 2026 menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah dan berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan serta kegiatan belajar mengajar.

Di tengah kondisi tersebut, muncul suasana yang bagi sebagian masyarakat terasa cukup familiar. Masker kembali digunakan ketika beraktivitas dan pembelajaran jarak jauh atau PJJ kembali diterapkan di sejumlah wilayah. Situasi ini kemudian membuat sebagian warganet bernostalgia dengan suasana era pandemi COVID-19.

Meski terlihat serupa, penyebabnya tentu berbeda. Pada masa pandemi, masker dan pembelajaran dari rumah dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi penyebaran virus. Sementara dalam kondisi erupsi Anak Krakatau, penggunaan masker dilakukan untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik, sedangkan PJJ menjadi salah satu langkah untuk mengurangi aktivitas masyarakat di tengah kondisi lingkungan yang terdampak abu.

Abu Vulkanik Kembali Mengubah Aktivitas Masyarakat

Gambar ilustrasi

Erupsi Anak Krakatau membawa material vulkanik ke udara. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mengganggu aktivitas masyarakat apabila mencapai permukiman atau wilayah yang berada di jalur sebarannya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan ketika berada di luar rumah. Masker dapat digunakan untuk membantu mengurangi paparan partikel abu, terutama ketika udara terlihat berkabut akibat abu vulkanik.

Selain masker, masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara sedang terdampak abu. Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan serta menyebabkan iritasi pada mata.

Situasi tersebut secara tidak langsung mengingatkan masyarakat pada masa pandemi. Jika beberapa tahun lalu masker digunakan hampir setiap kali keluar rumah karena kekhawatiran terhadap COVID-19, kali ini masker kembali terlihat karena adanya ancaman abu vulkanik.

PJJ Kembali Diterapkan

Hal lain yang membuat masyarakat semakin teringat dengan masa pandemi adalah kembali diterapkannya pembelajaran jarak jauh di sejumlah wilayah.

Pada masa COVID-19, PJJ menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para pelajar. Sekolah ditutup sementara atau kegiatan belajar dipindahkan ke rumah untuk mengurangi risiko penularan virus.

Kini, pembelajaran jarak jauh kembali digunakan dalam situasi berbeda. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik dan kondisi lingkungan yang dianggap kurang ideal untuk kegiatan belajar tatap muka.

Kemunculan kembali PJJ tentu membawa pengalaman yang berbeda bagi para siswa. Bagi mereka yang pernah menjalani sekolah dari rumah saat pandemi, kondisi ini mungkin terasa seperti mengulang sebagian pengalaman beberapa tahun lalu.

Namun, PJJ akibat erupsi tidak berarti terjadi kembali kondisi pandemi. Penerapannya berkaitan dengan situasi darurat akibat aktivitas gunung api dan dilakukan untuk menjaga keamanan serta kenyamanan masyarakat.

Dampak Abu Vulkanik terhadap Penerbangan

Selain aktivitas masyarakat dan pendidikan, erupsi Anak Krakatau juga berdampak terhadap sektor penerbangan.

Keberadaan abu vulkanik di udara dapat menjadi persoalan serius bagi penerbangan karena partikel abu dapat mengganggu kinerja mesin pesawat dan komponen lainnya. Karena alasan keselamatan, aktivitas penerbangan di wilayah yang terdampak dapat mengalami penyesuaian.

Sejumlah penerbangan pun mengalami gangguan akibat kondisi tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh maskapai, tetapi juga oleh penumpang yang harus menghadapi perubahan jadwal maupun pembatalan penerbangan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak erupsi gunung api dapat meluas hingga berbagai sektor kehidupan, tidak hanya wilayah yang berada dekat dengan gunung.

Anak Krakatau Masih Menjadi Perhatian

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang terus dipantau oleh pihak berwenang. Aktivitasnya menjadi perhatian karena perubahan aktivitas gunung api dapat terjadi dari waktu ke waktu.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara berkala menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta rekomendasi yang perlu diperhatikan masyarakat.

Masyarakat di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk mengikuti informasi resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya. Ketika terjadi hujan abu, masyarakat juga perlu mengambil langkah perlindungan yang sesuai, termasuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Bukan Pandemi, tetapi Suasananya Mengingatkan

Penggunaan masker dan kembalinya PJJ memang membuat sebagian masyarakat teringat pada masa COVID-19. Namun, penting untuk memahami bahwa kesamaan tersebut hanya terlihat dari aktivitas sehari-harinya.

Situasi yang terjadi saat ini disebabkan oleh erupsi dan abu vulkanik Anak Krakatau, bukan karena munculnya kembali pandemi COVID-19.

Nostalgia tersebut lebih kepada pengalaman masyarakat yang pernah melewati masa ketika masker dan sekolah dari rumah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, kebiasaan serupa kembali muncul untuk sementara sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi lingkungan akibat aktivitas gunung api.

Erupsi Anak Krakatau sekaligus menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia hidup di wilayah yang memiliki banyak gunung api aktif. Karena itu, kesiapsiagaan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang menjadi hal penting ketika aktivitas vulkanik meningkat.

Dengan tetap mengikuti informasi resmi, menggunakan perlindungan yang diperlukan, serta membatasi aktivitas ketika kondisi tidak memungkinkan, masyarakat dapat mengurangi risiko akibat paparan abu vulkanik.