JAKARTA – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Jumat malam, 4 September 2026. Aktivitas erupsi berlangsung menerus sejak pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB.

Erupsi tersebut disertai suara gemuruh dan semburan material berwarna merah menyala. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga diduga berkaitan dengan suara dentuman yang dilaporkan terdengar oleh masyarakat di sejumlah wilayah.

Kondisi terbaru Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena suara dentuman dilaporkan terdengar hingga wilayah yang cukup jauh dari lokasi gunung api.

Erupsi Berlangsung Selama Beberapa Jam

Gambar ilustrasi

Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dimulai pada Jumat malam pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut berlangsung selama beberapa jam hingga Sabtu pagi sekitar pukul 04.40 WIB.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan erupsi yang berlangsung dalam durasi beberapa jam tersebut berasosiasi dengan fenomena lava air mancur atau lava fountain.

Fenomena tersebut terlihat dari semburan berwarna merah menyala yang berlangsung secara terus-menerus. Meski demikian, tinggi kolom erupsi belum dapat dipastikan.

Aktivitas vulkanik tersebut juga disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Dentuman Terdengar di Tiga Provinsi

Erupsi Gunung Anak Krakatau diduga kuat berkaitan dengan suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.

Laporan mengenai dentuman datang dari Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung.

Menurut Lana Saria, suara tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau karena waktunya bersamaan dengan periode erupsi, yakni sekitar pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB.

Meski jarak Gunung Anak Krakatau dengan Bandung Raya cukup jauh, suara dentuman tetap dapat terdengar. Fenomena tersebut dapat terjadi karena gelombang suara berfrekuensi rendah mampu merambat jauh melalui atmosfer.

Ekspansi gas yang cepat serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan juga dapat menghasilkan gelombang suara.

Kondisi atmosfer turut memengaruhi perjalanan suara. Perubahan suhu, tekanan, dan angin di ketinggian dapat membuat gelombang suara membelok hingga akhirnya terdengar di wilayah yang jauh dari sumbernya.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Munculnya suara dentuman di sejumlah daerah sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama karena Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang besar.

Namun, Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Masyarakat juga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi tsunami.

Badan Geologi menyatakan bahwa berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

Kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, aktivitas gunung api tetap perlu dipantau karena kondisi vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu.

Status Gunung Anak Krakatau Level III

Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.

Dengan status tersebut, masyarakat perlu memperhatikan potensi bahaya yang dapat muncul akibat aktivitas erupsi.

Beberapa potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, hingga hujan abu vulkanik.

Sebaran abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang dan berdampak terhadap kesehatan apabila terhirup.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak hujan abu dianjurkan menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.

Radius 3 Kilometer Harus Dihindari

Untuk keselamatan, Badan Geologi mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki agar tidak memasuki kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

Larangan tersebut diberlakukan karena masih terdapat potensi bahaya dari aktivitas vulkanik, termasuk aliran lava dan lontaran material pijar.

Masyarakat juga diminta tidak mendekati gunung api hanya untuk melihat erupsi atau mengambil gambar dan video.

Bagi masyarakat di pesisir Banten dan Lampung, aktivitas sehari-hari tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan perkembangan informasi resmi dari pemerintah.

Informasi yang beredar di media sosial juga perlu disaring agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.

Pemantauan Terus Dilakukan

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api yang terus mendapatkan pemantauan dari PVMBG. Perkembangan aktivitas vulkaniknya akan terus dievaluasi untuk mengetahui perubahan kondisi gunung.

Erupsi yang berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu mendapat perhatian.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diharapkan tetap tenang, tetapi juga tidak mengabaikan imbauan keselamatan.

Yang paling penting, masyarakat tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau serta selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG.

Dengan demikian, masyarakat dapat tetap waspada tanpa perlu panik menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali terjadi pada awal September 2026.

Sumber Referensi : ANTARA, 5 September 2026.