Beberapa hari terakhir, media sosial Indonesia lagi ramai satu video. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, sedang mengumumkan pemenang lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Semua baik-baik saja… sampai bagian baca satuan frekuensinya.
MHz dibaca “em ha ze”. GHz dibaca “ge ha ze”.
Netizen langsung beraksi. Lahirlah julukan-julukan kreatif: Miss Com, Misspro, sampai yang lebih lengkap Miss Com Pro (Pronunctiation). Singkatan dari “Miss Communication + Pronunciation yang meleset”.
Sebenarnya ini bukan soal benci atau serang pribadi. Ini lebih ke momen “kok bisa ya”. Karena posisi yang dipegang adalah Menteri Komunikasi dan Digital. Kalau komunikasi dan digitalnya saja unit frekuensi dasar dibaca huruf per huruf, ya wajar saja orang ketawa.
Tapi daripada cuma ketawa, lebih baik kita manfaatkan momen ini untuk belajar. Biar kita semua (termasuk pejabat publik) tahu cara baca yang benar.
Apa Sebenarnya MHz dan GHz Itu?
MHz dan GHz adalah satuan frekuensi. Satuan dasarnya adalah Hertz (disingkat Hz), diambil dari nama fisikawan Jerman Heinrich Rudolf Hertz. Satu Hertz berarti satu siklus gelombang per detik.
Karena frekuensi radio, prosesor, dan jaringan sangat tinggi, kita pakai kelipatan:
- kHz = kilohertz = 1.000 Hz
- MHz = megahertz = 1.000.000 Hz (satu juta siklus per detik)
- GHz = gigahertz = 1.000.000.000 Hz (satu miliar siklus per detik)
Jadi ketika orang bilang “pita frekuensi 700 MHz”, artinya gelombang radio yang bergetar 700 juta kali per detik. Sementara 2,6 GHz berarti 2,6 miliar getaran per detik.
Ini bukan istilah asing. Anak SMP yang sudah belajar gelombang elektromagnetik biasanya sudah kenal. Anak yang main game atau nonton spesifikasi laptop juga sering dengar “prosesor 3,5 GHz”.
Cara Baca yang Benar
Ini yang paling penting:
- MHz dibaca megahertz Pelafalan: mé-ga-hèrts (tekanan di “me” dan “herts”)
- GHz dibaca gigahertz Pelafalan: gí-ga-hèrts
Bukan:
- em-ha-ze
- ge-ha-ze
- em-ha-zet
- ge-i-ge-a (versi Gigabyte yang juga pernah muncul di komentar)
Kenapa orang sering salah baca huruf per huruf? Karena di Indonesia kita terbiasa mengeja singkatan seperti itu. “MB” jadi “em be”, “GB” jadi “ge be”, “CPU” jadi “ce pe u”. Kebiasaan ini menular ke satuan ilmiah yang seharusnya dibaca utuh.
Padahal di dunia ilmiah dan teknis internasional, prefix SI (mega, giga, tera, dll) selalu digabung dengan satuan dasarnya. Kita bilang “megabyte”, bukan “em be”. Kita bilang “gigahertz”, bukan “ge ha ze”.
Contoh praktis yang benar:
- 700 MHz → tujuh ratus megahertz
- 2,6 GHz → dua koma enam gigahertz
- 30 MHz → tiga puluh megahertz
- 5 GHz → lima gigahertz
Kalau sedang membaca naskah resmi atau pidato, lebih baik ucapkan utuh. Kalau memang ingin singkat, cukup bilang “tujuh ratus mega” atau “dua koma enam giga” — asal jangan sampai jadi “em ha ze”.
Kenapa Hal Kecil Ini Jadi Besar?
Karena konteksnya.
Kalau yang salah baca adalah orang biasa di warung kopi, ya biasa saja. Tapi ketika yang salah baca adalah pejabat tertinggi yang mengurus frekuensi, spektrum, 5G, dan transformasi digital nasional, efeknya beda. Publik langsung menilai: “Apakah orang yang ngomongin frekuensi setiap hari ini benar-benar paham apa yang dia omongin?”
Ini bukan berarti pejabat harus hafal semua rumus fisika. Tapi minimal, istilah dasar yang muncul di setiap dokumen resmi dan press conference seharusnya dikuasai. Apalagi yang bersangkutan punya latar belakang pendidikan bagus (Manufacturing Engineering di UNSW Australia dan S2 Ilmu Politik UI).
Literasi digital bukan cuma soal bisa pakai aplikasi atau bikin konten. Literasi digital juga termasuk paham bahasa teknis yang dipakai di dunia digital itu sendiri. Frekuensi adalah “bahan bakar” jaringan. Kalau cara bacanya saja salah, orang jadi ragu seberapa dalam pemahaman teknisnya.
Tips Biar Tidak Kena Julukan Serupa
- Jangan mengandalkan kebiasaan mengeja huruf. Kalau ketemu satuan SI (Hz, B, W, V, A, dll), biasakan baca sebagai kata utuh.
- Latihan dengan naskah. Sebelum naik podium, baca ulang bagian teknis keras-keras. Minta staf yang paham teknikal untuk mengoreksi.
- Pakai “mega” dan “giga” saja kalau mau singkat. Banyak teknisi yang bilang “tujuh ratus mega” atau “dua enam giga”. Sudah cukup jelas dan tidak salah.
- Kenali prefix SI yang sering muncul:
- kilo = seribu
- mega = sejuta
- giga = semiliar
- tera = setriliun
- Jangan malu bertanya. Lebih baik tanya staf “ini dibaca apa ya?” daripada salah di depan kamera nasional.
Penutup: Belajar dari Momen Miss Com Pro
Momen “em ha ze – ge ha ze” ini sebenarnya bagus. Ia mengingatkan kita semua bahwa jabatan publik menuntut ketelitian, termasuk dalam hal-hal yang dianggap sepele. Komunikasi yang baik dimulai dari cara kita mengucapkan kata-kata yang kita pakai setiap hari.
Jadi, mulai sekarang, kalau ketemu tulisan MHz atau GHz, baca dengan benar: megahertz dan gigahertz.
Biar tidak ada yang digelari Miss Com Pro (Pronunctiation) lagi. Dan biar Kementerian Komunikasi dan Digital benar-benar terdengar… komunikatif dan digital.
Karena di era digital, cara kita berbicara tentang teknologi juga merupakan bagian dari literasi itu sendiri.
