Di era informasi yang bergerak serba cepat, kita sering kali disuguhkan dengan atraksi retorika publik yang membagongkan. Hari ini seorang figur publik atau pejabat menyuarakan narasi A dengan penuh keyakinan, namun keesokan harinya—tanpa rasa canggung sedikit pun—ia mengeksekusi narasi B yang bertolak belakang. Dalam panggung politik atau kepemimpinan, fenomena plin-plan ini sering diperhalus dengan istilah “dinamika kompromi” atau “fleksibilitas strategi”. Namun, masyarakat akar rumput memiliki istilah yang jauh lebih merakyat dan menohok: “Esuk dele, sore tempe” (Pagi kedelai, sore sudah jadi tempe).
Ketidakkonsistenan ucapan, berlanjut pada pernyataan yang aneh-aneh, hingga keluarnya diksi kotor ke ruang publik, bukan sekadar masalah public relations yang buruk. Dalam kacamata Islam dan analisis karakter, lisan yang tidak stabil adalah sinyal bahaya paling awal yang menandakan adanya krisis di kedalaman jiwa pelakunya.
Lantas, bagaimana Islam membedah hubungan antara lisan, kelurusan hati, dan kualitas kepemimpinan? Mengapa menjaga lisan menjadi syarat mutlak sebelum seseorang mampu melahirkan kebijakan yang adil dan menyejahterakan?
1. Anatomi Lisan: Cermin Transparan dari Kondisi Hati
Secara anatomi, lisan hanyalah sepotong daging kecil di dalam rongga mulut. Namun secara spiritual dan psikologis, lisan berfungsi layaknya cerobong asap atau saluran pembuangan dari apa yang sedang bergolak di dalam dada. Apa yang tersimpan rapat di dalam pikiran dan hati—baik itu ketulusan, kesombongan, ketakutan, maupun ambisi pragmatis—pada akhirnya akan merembes keluar melalui kata-kata, baik disadari maupun tidak (lahnatul lisan).
Rasulullah ﷺ secara tegas menggambarkan hubungan kausalitas yang sangat erat antara iman, hati, dan lisan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad:
“Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya.”
Hadits ini menyajikan sebuah hierarki integritas yang amat logis:
-
Lisan adalah Pintu Masuk dan Keluar: Jika lisan terbiasa melontarkan kebohongan, manipulasi, atau ucapan yang asal keluar tanpa ditimbang, ucapan tersebut akan membalik dan mengotori nurani.
-
Kerasnya Hati (Qaswatul Qalb): Ucapan yang tidak jujur yang dilakukan secara berulang-ulang akan mengikis rasa bersalah. Akibatnya, hati menjadi tumpul (desensitisasi), sulit menerima kebenaran, dan tidak lagi peka terhadap penderitaan sesama.
-
Kerusakan Iman: Ketika hati sudah tumpul dan tidak lagi berpatokan pada kebenaran, maka nilai-nilai keimanan dan integritas seseorang meluruh secara bertahap.
Seorang ulama besar, Al-Hasan Al-Bashri, pernah memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai beda mentalitas orang bijak dengan orang yang dangkal:
“Lisan orang yang bijak berada di belakang hatinya; apabila ia hendak berbicara, ia mengembalikan ucapan itu ke hatinya. Jika bermanfaat, ia ucapkan; jika berbahaya, ia tahan. Sedangkan hati orang jahil berada di belakang lisannya; ia berbicara sesuka hatinya, baru kemudian berpikir.”
2. Menguliti Karakter: Siapa Sebenarnya “Pemilik Lisan Tempe-Kedelai”?
Ketika seseorang yang memegang tampuk kekuasaan atau pengaruh publik terbiasa mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah, kotor, dan tidak masuk akal, Islam maupun analisis sosial modern memetakan karakter tersebut ke dalam beberapa kategori:
A. Manifestasi Nifaq Amali (Kemunafikan Tatanan Perilaku)
Salah satu indikator paling eksplisit dari karakter munafik sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ adalah: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkari, dan apabila diberi amanah ia khianati. Karakter “pagi tempe sore kedelai” adalah bentuk paling telanjang dari ingkar janji dan manipulasi fakta.
B. Dzawul Wajhain (Manusia Bermuka Dua)
Dalam istilah hadits, orang yang tidak memiliki pendirian jujur dinamakan dzawul wajhain. Rasulullah ﷺ menyebut mereka sebagai salah satu golongan manusia paling buruk. Mereka datang ke suatu kelompok dengan narasi yang menyenangkan kelompok tersebut, lalu pergi ke kelompok lain membawa narasi yang sebaliknya demi mencari keuntungan atau mengamankan posisi pribadi (opportonis).
C. Fahisy dan Badzi’ (Berlidah Kotor dan Keji)
Lisan yang sering mengeluarkan umpatan, kata-kata kasar, atau narasi yang merendahkan pihak lain mengindikasikan hilangnya rasa malu (haya’) dari jiwa seseorang. Padahal, rasa malu adalah benteng terakhir yang menahan manusia dari tindakan tercela.
D. Defisit Wawasan dan Hilangnya Thalabul ‘Ilmi
Sering kali, pernyataan aneh yang keluar dari mulut seorang figur publik bukan hanya disebabkan oleh niat jahat, melainkan karena ketiadaan wawasan yang memadai. Ketika seseorang tidak dibekali ilmu yang mendalam namun dituntut untuk membuat keputusan atau memberikan tanggapan, ia akan bersandar pada asumsi dangkal, retorika kosong, atau arahan pihak lain yang menungganginya.
3. Dampak Fatal Bagi Kebijakan Publik dan Bencana Sosial
Mengapa kita harus risau jika seorang pemimpin atau wakil rakyat memiliki lisan yang tidak lurus? Bukankah yang terpenting adalah hasil kerjanya?
Jawabannya sederhana: Kebijakan publik yang adil mustahil lahir dari lisan dan hati yang bengkok.
Ketika pendidikan atau wawasan seseorang terbatas, dan di saat yang sama hatinya tidak memiliki pegangan integritas yang kokoh, dampak destruktifnya akan dirasakan oleh jutaan rakyat:
-
Kebijakan yang Merugikan dan Terombang-ambing: Pemimpin yang “pagi tempe sore kedelai” tidak akan memiliki kompas nilai yang jelas. Kebijakan yang dilahirkan hari ini bisa dengan mudah dibatalkan atau diubah esok hari bukan berdasarkan evaluasi data yang objektif, melainkan karena tekanan oligarki, bisikan pihak tertentu, atau kepentingan elektoral jangka pendek.
-
Erosi Kepercayaan Publik (Distrust): Ketika rakyat terbiasa melihat pimpinannya berbohong atau meralat ucapan konyol setiap minggu, kepercayaan sosial (social trust) akan runtuh. Masyarakat menjadi apatis, sinis, dan tidak lagi menghormati hukum atau institusi negara.
-
Normalisasi Kebohongan: Budaya lisan yang kotor dan inkonsisten di tingkat atas akan menetes ke bawah (trickle-down effect). Masyarakat akan menganggap bahwa manipulasi, kebohongan, dan ucapan tidak bertanggung jawab adalah hal yang wajar dalam berinteraksi.
4. Jalan Terjal Mempertahankan Kelurusan Hati dan Lisan
Mempertahankan integritas dan kelurusan hati di tengah sistem yang serba pragmatis memang bukan perkara mudah. Namun, Islam memberikan panduan rinci agar seseorang—baik sebagai rakyat biasa maupun pemangku kebijakan—tetap memiliki qalbun salim (hati yang selamat/lurus):
+-------------------------------+
| 1. Doa Ketetapan Hati |
| (Menyadari Kelemahan Diri) |
+---------------+---------------+
|
v
+---------------+---------------+
| 2. Menuntut Ilmu & Wawasan |
| (Benteng Logika & Nurani) |
+---------------+---------------+
|
v
+---------------+---------------+
| 3. Menjaga Makanan & Harta |
| (Bebas Syubhat & Risywah) |
+---------------+---------------+
|
v
+---------------+---------------+
| 4. Mengembangkan Muraqabah |
| (Merasa Selalu Diawasi Allah)|
+---------------+---------------+
|
v
+---------------+---------------+
| 5. Lingkungan yang Lurus |
| (Suhbah Shalihah/Check-Bal) |
+-------------------------------+
1. Merutinkan Doa Ketetapan Hati
Manusia tidak pernah bisa menjamin keteguhan hatinya sendiri. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ yang sudah dijamin kesuciannya tetap menjadi sosok yang paling sering membaca doa:
“Ya Muqallibal quluub, thabbit qalbii ‘alaa diinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.)
2. Memperluas Wawasan dan Menuntut Ilmu (Thalabul ‘Ilmi)
Niat baik tanpa ilmu adalah resep menuju kegagalan. Untuk menjaga agar hati tidak gampang dibodohi atau diintervensi oleh kepentingan luar, seseorang wajib terus belajar. Ilmu pengetahuannya menjadi perisai bagi hatinya, sedangkan hatinya menjadi pengarah bagi ilmunya.
3. Menjaga Asupan Harta dari Yang Haram dan Syubhat
Suap (risywah), gratifikasi, dan harta yang tidak jelas asal-usulnya adalah racun paling mematikan bagi mata hati. Sekali seseorang menerima harta haram demi mengamankan jabatan, saat itu pula lisannya terkunci untuk menyuarakan kebenaran dan hatinya tumpul terhadap keadilan.
4. Menumbuhkan Rasa Muraqabah (Kesadaran Diawasi Tuhan)
Integritas sejati adalah melakukan hal yang benar meskipun tidak ada orang lain yang melihat. Seorang pejabat atau pembuat kebijakan yang memiliki muraqabah paham betul bahwa meskipun ia berhasil menyusun narasi bohong yang lolos dari pengawasan media dan hukum dunia, ada Pengawas Maha Agung yang mencatat setiap niat terselubung di dalam dadanya.
5. Berada di Lingkungan yang Berani Mengingatkan (Suhbah Shalihah)
Hati manusia sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat ia berinteraksi setiap hari. Jika seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memuji (yes-men) dan memaklumi penyimpangan, kelurusan hatinya akan terkikis. Ia membutuhkan sahabat atau penasihat yang berani berkata jujur dan menegurnya ketika lisannya mulai “mencong”.
Kesimpulan
Lisan yang terbiasa melontarkan ucapan yang aneh, kotor, dan tidak konsisten seperti “pagi tempe sore kedelai” bukanlah sekadar cacat cara berkomunikasi. Ia adalah gejala dari kondisi jiwa yang sedang sakit dan kehilangan arah moral.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, kita membutuhkan kombinasi mutlak antara kedalaman ilmu/wawasan dan kelurusan hati. Ilmu tanpa kebenaran hati melahirkan kecurangan yang canggih, sedangkan niat baik tanpa ilmu melahirkan keputusan konyol yang merugikan banyak orang.
Langkah paling konkret untuk memperbaiki keadaan ini dapat dimulai dari hal paling dekat dengan kita: menjaga lisan sendiri agar selalu jujur, terukur, dan bermakna sebelum berharap lahirnya perubahan besar di panggung publik.
