Di era media sosial, istilah “afirmasi” semakin populer. Tidak sedikit video, buku, maupun seminar yang mengajarkan seseorang untuk mengulang kalimat-kalimat tertentu setiap pagi, seperti:
- “Saya pasti kaya.”
- “Rezeki datang dari segala arah.”
- “Alam semesta sedang bekerja untuk saya.”
- “Energi positif saya menarik keberuntungan.”
- “Saya memerintahkan semesta agar membuka pintu rezeki.”
Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat tersebut terdengar seperti motivasi biasa. Namun, seorang Muslim perlu berhati-hati. Sebab, bukan hanya kata-katanya yang dinilai dalam Islam, tetapi juga keyakinan yang melatarbelakanginya.
Islam adalah agama tauhid. Sejak awal, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar hati seorang hamba hanya bergantung kepada Allah semata, bukan kepada kekuatan pikiran, energi, frekuensi, maupun “alam semesta”.
Apa Itu Afirmasi Modern?
Afirmasi modern adalah praktik mengulang kalimat-kalimat positif dengan keyakinan bahwa ucapan tersebut dapat memengaruhi kenyataan. Dalam banyak ajaran motivasi modern, afirmasi sering dikaitkan dengan konsep Law of Attraction (Hukum Tarik-Menarik) atau gagasan bahwa pikiran dan ucapan memiliki kekuatan untuk menarik peristiwa tertentu.
Misalnya seseorang berkata:
“Saya menarik kekayaan.”
“Semesta mengirimkan rezeki kepada saya.”
“Saya menciptakan realitas saya sendiri.”
Masalahnya bukan sekadar kalimat positifnya, tetapi keyakinan bahwa ucapan atau energi tersebut memiliki kekuatan menghadirkan hasil.
Islam Mengajarkan Berdoa, Bukan Memerintah Alam Semesta
Dalam Islam, seorang hamba tidak pernah diajarkan berbicara kepada alam semesta.
Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Perhatikan ayat ini.
Allah mengajarkan agar kita berdoa kepada-Nya, bukan kepada semesta, bukan kepada energi, dan bukan kepada kekuatan pikiran.
Seorang Muslim berkata:
“Ya Allah, lapangkan rezekiku.”
Bukan:
“Wahai semesta, kirimkan rezekiku.”
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi menyangkut inti tauhid.
Rezeki Datang dari Allah, Bukan dari Semesta
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Adz-Dzariyat: 58)
Ayat ini sangat jelas.
Yang memberi rezeki adalah Allah, bukan hukum alam, bukan energi positif, bukan frekuensi, dan bukan afirmasi.
Jika seseorang meyakini bahwa alam semesta memiliki kekuatan untuk mengatur rezeki, maka keyakinan tersebut bertentangan dengan tauhid rububiyah.
Berpikir Positif Itu Baik, Tetapi Tetap Bergantung kepada Allah
Islam tidak melarang optimis.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin berbaik sangka kepada Allah.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, husnuzan kepada Allah berbeda dengan meyakini bahwa pikiran kita menciptakan kenyataan.
Husnuzan berarti:
- yakin Allah Maha Pemurah,
- yakin Allah mampu mengubah keadaan,
- yakin doa didengar,
- yakin pertolongan Allah dekat.
Sedangkan afirmasi modern sering mengajarkan:
- yakin pada kekuatan diri,
- yakin pada energi,
- yakin pada semesta,
- yakin pada vibrasi pikiran.
Inilah perbedaannya.
Ucapan Tidak Memiliki Kekuatan Gaib
Dalam Islam, doa adalah ibadah.
Bukan mantra.
Bukan rumus.
Bukan kata-kata ajaib.
Yang mengabulkan doa bukan karena kalimatnya memiliki energi tertentu, melainkan karena Allah menghendakinya.
Oleh karena itu, seorang Muslim boleh berdoa berkali-kali, tetapi ia tetap meyakini bahwa hasilnya berada di tangan Allah.
Bukan di tangan ucapannya.
Mengapa Banyak Orang Tertarik dengan Afirmasi?
Karena manusia memang menyukai jalan yang tampak mudah.
Mereka ingin kaya hanya dengan mengulang kalimat.
Ingin sukses hanya dengan membayangkan.
Ingin mendapatkan sesuatu tanpa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Padahal Islam mengajarkan sebab-sebab yang nyata dan syar’i.
Allah memerintahkan kita untuk:
- berdoa,
- bertawakal,
- bekerja,
- bersedekah,
- bertakwa,
- memperbanyak istighfar.
Semua ini memiliki dalil yang jelas.
Jangan Sampai Tauhid Bergeser Tanpa Disadari
Kesyirikan tidak selalu datang dalam bentuk menyembah berhala.
Kadang ia masuk melalui keyakinan-keyakinan baru yang terdengar ilmiah atau modern.
Misalnya:
- “Semesta selalu mendengar ucapanmu.”
- “Energi positif menarik uang.”
- “Frekuensimu menentukan rezekimu.”
- “Pikiranmu adalah pencipta realitas.”
Kalimat-kalimat seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.
Generasi Salaf adalah generasi yang paling memahami Islam. Mereka menghadapi kesulitan hidup yang luar biasa, tetapi tidak pernah mengajarkan teknik “memerintah semesta”.
Sebaliknya, mereka memperbanyak doa, istighfar, tawakal, dan amal saleh.
Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Bersikap?
Tidak semua kalimat positif itu salah.
Kalimat seperti:
- “Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik.”
- “Saya akan berusaha lebih rajin.”
- “Insya Allah saya mampu melewati ujian ini.”
Tidak mengandung masalah selama tidak diyakini memiliki kekuatan gaib.
Namun ketika seseorang berkata:
“Saya memprogram alam semesta.”
atau
“Energi saya menarik kekayaan.”
maka seorang Muslim wajib berhati-hati.
Karena hati seorang mukmin hanya bergantung kepada Allah.
Gantilah Afirmasi dengan Doa yang Diajarkan Nabi ﷺ
Daripada berkata:
“Saya menarik rezeki.”
Lebih baik berdoa:
“Ya Allah, cukupkan aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram.”
Daripada berkata:
“Semesta mendukung impianku.”
Lebih baik berkata:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
Daripada berkata:
“Saya memerintahkan alam agar membuka jalan.”
Lebih baik membaca:
اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau jadikan mudah.”
Doa-doa ini bukan sekadar kata-kata indah, tetapi ibadah yang diajarkan dalam syariat.
Penutup
Seorang Muslim tidak membutuhkan “teknik memerintah semesta” untuk meraih kesuksesan. Ia memiliki sesuatu yang jauh lebih mulia, yaitu doa kepada Rabb semesta alam.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang mencipta, mengatur, memberi rezeki, menyembuhkan, dan mengabulkan permohonan. Karena itu, gantungkanlah harapan hanya kepada-Nya.
Jangan sampai istilah-istilah modern seperti “energi positif”, “manifestasi”, “vibrasi”, atau “law of attraction” membuat hati sedikit demi sedikit bergeser dari tauhid yang murni.
Mari kita hidupkan kembali ajaran Rasulullah ﷺ dan para Salafus Shalih: berdoa dengan ikhlas, bertawakal dengan benar, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan seluruh hasil kepada Allah.
Semoga Allah menjaga hati kita dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta meneguhkan kita di atas tauhid dan Sunnah hingga akhir hayat. Aamiin.
