“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)

Di tengah kondisi banyak negeri Muslim yang bergulat dengan kemiskinan, utang luar negeri, pajak yang tinggi, inflasi, hingga konflik berkepanjangan, nama Brunei Darussalam sering menjadi contoh sebuah negeri yang diberi keluasan rezeki oleh Allah. Pendapatan rakyat relatif tinggi, pendidikan dan kesehatan banyak ditanggung negara, pajak penghasilan nyaris tidak ada, dan kehidupan masyarakat tergolong aman.

Tidak sedikit yang kemudian berkata, “Inilah buah dari negara yang menjunjung Islam.”

Namun sebagai seorang Muslim, kita juga diajarkan agar tidak berhenti pada kekaguman terhadap kemakmuran dunia. Allah mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah negeri bukan hanya kekayaan, tetapi juga sejauh mana masyarakatnya istiqamah mengikuti wahyu.

Nikmat Dunia Bukan Selalu Tanda Keridhaan

Allah memberikan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, baik kepada orang beriman maupun yang belum beriman.

Firman Allah:

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’”

(QS. Al-Fajr: 15)

Ayat ini mengajarkan bahwa kekayaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa semua yang dilakukan suatu kaum pasti benar. Sebaliknya, kemiskinan juga bukan berarti Allah membenci suatu bangsa.

Karena itu, ketika melihat kemajuan Brunei, seorang Muslim hendaknya mengucapkan:

“Alhamdulillah. Semoga Allah menambah nikmat itu dan menjaga mereka di atas hidayah.”

Kemakmuran Adalah Amanah

Semakin besar nikmat, semakin besar pula hisabnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya; dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.”

Maka kemakmuran sebuah negara seharusnya menjadi sarana untuk semakin mudah menegakkan agama, memperkuat dakwah, membantu kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, serta memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Ketika Sunnah Menjadi Ukuran

Belakangan beredar potongan pidato Sultan Brunei yang menyampaikan agar tidak muncul kelompok yang “anti tahlil, anti talkin, anti ziarah kubur.”

Video tersebut memunculkan berbagai tanggapan di kalangan umat Islam.

Sebagian masyarakat memahami bahwa pernyataan tersebut merupakan upaya menjaga tradisi keagamaan yang telah lama berkembang di Brunei.

Sementara sebagian lainnya mengingatkan bahwa ukuran benar dan salah dalam agama bukanlah tradisi ataupun kebiasaan masyarakat, melainkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat Nabi ﷺ.

Di sinilah pentingnya membedakan antara menghormati seseorang dengan menguji setiap pendapat berdasarkan dalil.

Allah berfirman:

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”

(QS. An-Nisa’: 59)

Ayat ini menjadi prinsip yang disepakati seluruh kaum Muslimin.

Ziarah Kubur Adalah Sunnah

Di antara tiga perkara yang disebutkan dalam video tersebut, ziarah kubur justru merupakan sunnah Rasulullah ﷺ.

Beliau bersabda:

“Berziarahlah kalian ke kubur, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.”

Karena itu, tidak tepat jika setiap orang yang menyerukan pemurnian tauhid dianggap anti ziarah kubur.

Yang umumnya dipersoalkan para ulama adalah amalan-amalan yang dilakukan di kuburan apabila tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat atau mengandung unsur yang bertentangan dengan tauhid.

Tentang Tahlil dan Talkin

Adapun tahlil berjamaah dalam bentuk ritual tertentu setelah kematian serta talkin setelah penguburan memang menjadi pembahasan para ulama sejak dahulu.

Sebagian ulama membolehkannya, sebagian lagi tidak memandangnya sebagai sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Perbedaan ilmiah seperti ini seharusnya diselesaikan dengan dalil, adab, dan diskusi yang baik, bukan dengan saling mencela.

Allah memerintahkan:

“Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

Menasihati Pemimpin dengan Adab

Islam mengajarkan agar nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara yang mulia.

Mendoakan mereka, menginginkan kebaikan bagi mereka, serta berharap Allah membimbing mereka kepada keputusan yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan bagian dari akhlak Ahlus Sunnah.

Karena itu, apabila ada seorang Muslim yang berharap Brunei semakin dekat kepada sunnah Rasulullah ﷺ, hendaknya ia menyampaikannya dengan bahasa yang santun.

Bukan dengan caci maki.

Bukan dengan kebencian.

Tetapi dengan doa.

Harapan untuk Brunei Darussalam

Sebagai sesama Muslim, kita tentu bergembira melihat sebuah negeri yang aman dan makmur.

Namun harapan kita jauh lebih besar daripada sekadar kemakmuran ekonomi.

Kita berharap Brunei menjadi contoh negeri yang:

  • memuliakan Al-Qur’an dan Sunnah;
  • menjaga kemurnian tauhid;
  • menghidupkan sunnah Nabi ﷺ;
  • menjauhi seluruh bentuk syirik, khurafat, dan bid’ah;
  • melahirkan ulama rabbani yang membimbing umat dengan ilmu dan hikmah;
  • menjadi pelindung dakwah Islam yang lurus.

Sebab keberkahan sejati bukan hanya banyaknya minyak bumi atau besarnya pendapatan negara.

Keberkahan adalah ketika Allah menjaga iman penduduknya hingga akhir hayat.

Pelajaran bagi Indonesia dan Negeri Muslim Lainnya

Bagi kaum Muslimin di Indonesia maupun negeri-negeri lain, kemajuan Brunei juga memberikan pelajaran bahwa stabilitas, keamanan, pendidikan, dan kesejahteraan adalah nikmat yang patut diperjuangkan.

Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan bahwa pondasi utama sebuah masyarakat adalah aqidah yang benar.

Karena seberapa besar pun kekayaan sebuah bangsa, semuanya akan ditinggalkan.

Yang tersisa hanyalah amal shalih.

Doa untuk Brunei Darussalam dan Kaum Muslimin

Ya Allah, Rabb semesta alam.

Karuniakanlah keberkahan kepada negeri Brunei Darussalam.

Jagalah para pemimpin, ulama, dan seluruh rakyatnya dalam hidayah-Mu.

Tunjukkanlah kepada mereka jalan yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Mu menurut pemahaman para sahabat yang mulia.

Jika di negeri itu masih terdapat amalan yang belum sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ, maka berilah mereka kelapangan dada untuk menerima kebenaran.

Jika mereka telah berada di atas kebenaran dalam suatu perkara, maka teguhkanlah mereka di atasnya.

Ya Allah, satukan hati kaum Muslimin di atas tauhid.

Jauhkan kami dari syirik, bid’ah, khurafat, fanatisme golongan, dan segala bentuk perselisihan yang tidak diridhai-Mu.

Anugerahkan kepada para pemimpin kaum Muslimin rasa takut kepada-Mu, keadilan dalam memutuskan perkara, dan kecintaan kepada sunnah Rasulullah ﷺ.

Limpahkan keamanan kepada negeri-negeri kaum Muslimin.

Angkatlah kemiskinan, peperangan, perpecahan, dan kedzaliman dari mereka.

Berikan kepada umat ini ulama yang ikhlas, pemimpin yang adil, masyarakat yang mencintai ilmu, serta generasi yang menjaga tauhid hingga akhir hayat.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.